JUGUN IANFU, SEJARAH KELAM BUDAK SEKS ERA PENJAJAHAN JEPANG

Editor: Devidia
Sumber Pict. : Female.com

Kotor, tak ternilai, bahkan dipandang sebelah mata seakan sudah menjadi cercaan umum bagi para Jugun Ianfu. Budak wanita pemuas hasrat nafsu para penjajah Jepang yang dipandang masyarakat bagaikan sampah menjijikkan dan minus akan harga diri. Jugun Ianfu sudah menjadi gelar yang mengikat pada diri mereka, berpindah dari ranjang ke ranjang dan bertemu dengan orang kulit putih di ianjo, sebuah ruang kamar bagaikan kandang buaya yang tak hanya mengerikan, namun juga menyakitkan.

Pelacur! Banyak orang menyebut mereka sebagai pelacur. Wanita pribumi yang berjuang di jalan penuh derita hanya demi kemerdekaan Indonesia. Menjadi keset para penjajah Jepang pun rela mereka lakukan. Walau bayang memiliki harga diri sebagai wanita seutuhnya hanya sebuah ilusi yang tak akan pernah menjadi kenyataan.

Perlu diketahui! Meskipun secara visual mereka menjijikkan. Namun, secara faktual mereka adalah apa yang disebut dewi di peradaban manapun. Kecantikan wajah dan hati yang tiada tara, hingga kecintaannya terhadap negeri ini yang membuat kehormatannya raib dirampas para penjajah di wilayah koloni, Indonesia.

Di suatu ruangan yang pengap dan gelap, di situlah seorang Jugun Ianfu menguping pembicaraan para penjajah Jepang tentang kabar melemahnya kekuatan Jepang akibat dibomnya kota Hiroshima dan Nagasaki oleh Amerika Serikat. Kemudian, berita tersebut menjadi suatu senjata untuk rakyat pribumi yang disampaikan oleh Jugun Ianfu.

“Sudahlah Mas Arman, aku hanya seorang pelacur yang tak pantas menjadi istri seorang Tentara Indonesia seperti dirimu. Aku telah ternodai dan diriku juga mengidap penyakit kotor karena ulah para laki-laki jahat itu. Aku tak pantas untukmu, Mas. Tak pantas!” Ucap Marni di ruang tamu rumahnya.

“Tapi Dik, aku sudah menjatuhkan hati dan pilihanku padamu. Dan kau tak perlu risau perihal itu!” Bantah seorang Tentara Indonesia sambil mengelus kepala kekasihnya, Marni.

“Aku tak ingin kau malu akan diriku ini. Untuk sekarang yang perlu kau tahu Mas, kini Jepang sudah melemah, bersegeralah membebaskan negeri ini dari orang-orang biadab seperti mereka. Agar kelak tidak ada lagi wanita sepertiku di negeri ini.”  Ucap Marni sembari mengusap tetesan air mata yang bercucuran membasahi pipi merahnya.

“Jika itu keinginanmu, Dik, aku akan sesegera mungkin mewujudkannya. Namun, perlu kau tahu. Kau tetap sosok bidadari dalam relung hatiku.” Ucap Arman dengan lirih menahan isak tangis sambil menggenggam erat tangan kekasihnya.

November, 1945

Angin meniup dengan lembutnya, menghantarkan pada suasana damai. Tempat yang sepi, seperti jarang dijamah oleh orang.

“Ayolah, Arman. Kau harus tabah dan menerima kenyataan. Biarlah Dik Marni pergi dengan tenang dan tak lagi menahan sakitnya. Karena berita yang dibawanya pula, kini kita berada di titik puncak kemerdekaan negeri kita, Indonesia.” Ucap Soeripto yang juga seorang Tentara Indonesia kepada Laksamana Arman.

“Aku tak bisa melupakan dirinya, ia masih kekasihku. Dik Marni akan menjadi sejarah indah dalam hidupku dan harus menjadi sejarah yang tak terlupakan bagi negeri ini.” Ucap Laksamana Arman dengan nada lirih dan bersimpuh di atas pusara Marni. Seorang Jugun Ianfu, kekasihnya.

Lalu setelah memecah kerinduan itu, kini langkah kaki kedua pejuang negeri itu meninggalkan pusara Marni. Harap yang tak akan pernah pudar dari mereka para pejuang kemerdekaan negeri ini hanyalah adanya generasi bangsa yang tak akan pernah lupa dengan sejarah di negerinya sendiri, Indonesia.

Erlinda Rachmanita

Erlinda Rachmanita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *