Gaslighting Sebagai Jurang Hubungan Anak Muda

Ilustrasi: ECP/Fivi

“Bahwa cinta itu ketertarikan hebat yang tidak masuk akal. Karena di dalam ketertarikan itu, orang yang sedang merasakan cinta mengabaikan semua norma peraturan dan ketentuan yang telah selama ini dipelajarinya, sebelum dia jatuh cinta.” Ucap Mario Teguh dalam salah satu video di kanal Youtubenya.

Tak jarang anak muda telah memiliki dambaan hati atau kekasih dan diikatnya dengan kata “Pacaran”. Masa di mana seakan dunia terasa milik berdua. Pada dasarnya masa tersebut berlandaskan pada perkembangan psikologis dan kematangan mental guna menjalankan suatu hubungan yang memberikan dampak positif antara keduanya.

Hubungan yang baik tentunya diharapkan oleh seluruh kalangan anak muda. Namun, bagaimanakah jika harapan tersebut ternyata semu adanya? Hubungan yang telah dijalin, menjadi Abusive Relationship, dimana suatu hubungan disertai dengan tindakan kekerasan secara fisik, emosional, finansial, verbal, maupun seksual yang sengaja dilakukan dan ditunjukkan kepada pasangan.

Tak bisa dipungkiri Abusive Relationship nyatanya banyak menjamur dalam hubungan pacaran anak muda zaman sekarang. Hal ini dibuktikan dari Catatan Tahunan Komisi Nasional Perempuan (CATAHU Komnas Perempuan) 2019, yang menunjukkan tren berdasarkan laporan kekerasan di ranah privat/personal yang diterima mitra pengada layanan. Terdapat angka kekerasan dalam pacaran yang meningkat dan cukup besar yaitu sebanyak 2.073 kasus.

Tentunya dalam Abusive Relationship terdapat suatu peyebab yang membuat seorang korban dalam hubungan tersebut tak bisa lepas begitu saja dari jeratan cinta yang ternyata menjadi parasit berbahaya bagi dirinya. Salah satu faktor yang bisa kita tarik adalah adanya Gaslighting. Menurut Oxford Dictionary, gaslighting merupakan bentuk manipulasi dan kontrol yang dilakukan seseorang terhadap orang lain, serta berbentuk kekerasan mental oleh pelaku untuk mendominasi orang lain atau korbannya.

Adanya gaslighting dalam hubungan Abusive Relationship akan semakin memasung korban untuk tidak bisa lari dari hubungan tersebut. Mudahnya pengertian gaslighting yang bisa kita terima ialah, pelaku akan selalu mengeluarkan jurus ninjanya untuk menyusun kata romantis nan manis, hingga bersumpah serapah untuk tidak mengulangi kesalahannya pada korban. Sehingga tanpa disadari hal tersebut akan membangun sebuah siklus buruk dalam suatu hubungan yang bisa saja sulit untuk diputus rantainya.

Jeratan hubungan berbahaya ini dapat memberikan negative effect, tak hanya berupa guratan pada fisik korban. Juga memberikan luka pada mental korban. Pasalnya,  pada Abusive Relationship, seorang gaslighter selalu menyudutkan dan mudah saja menjustifikasi korbannya dengan konotasi negative. Si pelaku juga akan selalu mengorek kesalahan kecil pada diri korban tanpa memberikan solusi bijak. Hal ini membuat korban selalu overthinking dan menghadirkan rasa takut dan cemas yang pada akhirnya membuat korban merasa bersalah atas dirinya sendiri. Bahkan, bisa saja korban akan mengalami Post Traumatic Stress Disorder (PTSD). Dalam hal ini korban akan mengalami gangguan mental jika melihat kejadian yang menyulut sebuah trauma masa lalu hingga membuatnya kembali menghidupkan ingatan kelam mengenai kekerasan ketika ia berada dalam kungkungan Abusive Relationship. Tak cukup sampai di situ, ketidakpercayaan diri juga akan selalu menghantui, sehingga korban akan mengidap rasa was-was jika berada di ruang publik atau di tengah khalayak umum.

Kisah Abusive Relationship yang dibumbui dengan gaslighting juga terjadi pada kisah cinta seorang mahasiswa cantik di salah satu Perguruan Tinggi Negeri (PTN) Jawa Timur, yang nama atau identitasnya tak ingin disebutkan. Hubungan yang ia jalin dengan kekasihnya salama 7 bulan menuai berbagai kekerasan. “Jika aku gak nurut sama dia, aku dipukul atau kekerasan verbal. Aku juga pernah dicekik sampai pingsan. Dia juga berjanji akan berubah, tapi ternyata gak berubah-berubah,” ucapnya ketika berbagi cerita via WhatsApp (4/09).

Memang berat jika seseorang telah terjebak dalam suatu hubungan pacaran yang bisa dikatakan “tidak sehat”. Jika kekerasan dan segala bualan palsu sudah menjadi bibit dalam level pacaran, bagaimana nanti ketika melanjutkan pada tahap pernikahan? Akankah tetap menjadi sebuah habbit buruk? Hal tersebut tentunya harus benar-benar dikaji oleh korban. Tak hanya itu, beberapa pertimbangan pun harus dipikirkan untuk memilih antara bertahan atau lepas. Sehingga, korban dapat menjadi sebagai seorang pemenangakan kebebasan bertindak dan berekspresi bagi dirinya sendiri. “Korban dapat keluar dari kondisi tersebut jika terbuka, memiliki keinginan kuat, serta mendapat dukungan dari orang-orang sekitar,” ucap Psikoanalisis, Dr. Robin Stern, pada kumparan.com.

Erlinda Rachmanita

Erlinda Rachmanita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *