Memahami Perempuan dan Keputusan Hidupnya

Judul:                          Aku Lupa Bahwa Aku Perempuan

Penulis:                        Ihsan Abdul Quddus

Penerbit:                      Alvabet

Jumlah Halaman:        228

Peresensi:                    Devidia

 

Baginya, kehidupan perempuan memiliki dua sisi, pertama adalah ambisi dan kedua, perempuan murni yang melibatkan cinta. Lantas ia memilih untuk meninggalkan sisi perempuan dan beralih pada ambisi sejak usia muda. Jika teman sebayanya saat itu banyak mengenal cinta dan patah hati, ia tidak. Ia berpikir bahwa cinta itu ada di waktu luang, sedangkan baginya, ia tidak memiliki waktu luang. Karena tiada hari baginya tanpa belajar, berdiskusi, berorganisasi, berorasi, dan membela masyarakat yang tertindas. Begitulah hidup Suad, si perempuan yang tidak ingin biasa-biasa saja. Ia ingin menjadi seorang pemimpin perempuan yang bisa diteladani oleh sesama perempuan lainnya.

Hingga kemudian, seiring bertambahnya usia, Suad yang berdiri pada sisi ambisi wanita mulai goyah saat ia mengenal cinta dan pernikahan. Diceritakan pada zaman Suad remaja, kehidupan yang ada di Mesir saat itu tidak terlalu mengekang perempuan yang bekerja. Terbukti, kebijakan pemerintah pun memberikan fasilitas kepada wanita karir yang memiliki anak untuk mendapatkan cuti khusus, menggunakan jasa penitipan anak, dan sebagainya. Sayangnya, Suad yang terlalu ingin menunjukkan jati diri pemimpin dalam dirinya banyak dihadapkan pada keputusan lebih baik “sendiri” daripada memiliki “rumah tangga sewajarnya”. Karena pada akhirnya, ketika ia memilih kehidupan rumah tangga dan menjalin hubungan denga pria, ia akan dihadapkan pada pria yang tidak ingin didominasi oleh wanita. Pria yang tampaknya masih merasa asing dengan ambisi wanita. Lantas dari hal inilah, keputusan hidup Suad dipertaruhkan lagi di antara berbagai masalah perempuan dan ambisi.

Bagi beberapa pembaca mungkin akan menganggap bahwa novel “Aku Lupa Bahwa Aku Perempuan” ini berusaha mengkritik dan menunjukkan sisi negatif dari wanita berambisi, termasuk ketika wanita itu telah berkeluarga. Karena banyak kisah dalam novel yang menceritakan masa gagal si tokoh Suad dalam menjadi Ibu. Namun, begitulah kiranya buku ini mengritik perempuan yang “terlalu ingin menunjukkan” kehebatannya “pada publik”.  Novel ini mengajak kita mengenal kembali sejauh apa dan untuk siapa segala perlawananan yang kita lakukan sebagai perempuan. Apakah murni dari dalam diri atau untuk ditunjukkan pada orang lain demi pujian. Akan tetapi, kembali lagi, novel karya Ihsan Abdul Quddus ini seakan dibuat untuk mengajak pembaca ikut menghargai perempuan dan keputusan hidupnya tanpa perlu dihakimi. Termasuk keputusan Suad yang memilih hidup pada ambisinya, pun kemungkinan Suad-Suad lainnya diluar sana, patut tidak dihakimi pilihannya.

Devidia

Devidia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *